Ketika kita mengeluh: “hmm.. aku lelah sekali”
Allah menjawab: “dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat” (QS 78:9)

Ketika kita mengeluh: “beratnya cobaan ini, aku tidak sanggup”
Allah menjawab: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS 2:286)

Ketika kita mengeluh: “gelisahnyaa”
Allah menjawab: “… Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS 13:28)

Ketika kita mengeluh: “apa yang aku buat ini semua sia-sia?”
Allah menjawab: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS 99:7)

Ketika kita mengeluh: “tak ada seorang pun yang menolong aku”
Allah menjawab: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu” (QS 40:60)

Ketika kita mengeluh: “aku sangat sedih…”
Allah menjawab: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS 9:40)

Masyaallah.. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Subhanallah, walhamdulillah, walailaha illallah, Allahu akbar..

Baca Selengkapnya / Read More>>


Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik.

Aku selalu mendengar do’a ibuku saat aku pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang.

Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu…benar-benar mengherankan!”

Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…
Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.


Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu.

Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.

Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak.

Aku bingung dan sering melamun sendirian... banyak waktu luang... pengetahuanku terbatas.

Aku mulai jenuh... tak ada yang menuntunku di bidang agama.

Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentut penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.

Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol... tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban.

Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.

Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.

Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah...” perintah temanku.

Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat.

Aku diam membisu.

Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi... keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

Tak ada gunanya…

Suara lagunya semakin melemah…lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.

Kami segera membawa mereka ke dalam mobil.

Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun.

Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening.

Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.

Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.

Aku kembali pada kebiasaanku semula... Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.

▬Kejadian Yang Menakjubkan…▬

Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu... sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.

Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.

Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemaniku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.

Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.

Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an... dengan suara amat lemah.

“SubhanAllah!” dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati.

Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Al Quran seindah itu.

Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku sendiri.

Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.

Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.

Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.

Sampai di rumah sakit…

Kepada orang-orang di sana kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.

Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya.

Salah seorang petugas Rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana, almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.

Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam perjalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan,” kata almarhum.

Aku ikut menyalati jenazah dan mengantarnya sampai ke kuburan.

Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.

“Dengan nama Allah dan atas nama Rasulullah”.

Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah…Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya…

Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat…

Dan aku... sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Aamiin... (Azzamul Qaadim, hal 36-42)

Sumber : [“Saudariku Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab”; judul asli Kesudahan yang Berlawanan; Asy Syaikh Abdul Hamid Al-Bilaly; Penerbit : Akafa Press Hal. 48]
Baca Selengkapnya / Read More>>


Wahai para istri, pernahkah kau
perhatikan lebih jauh tentang sosok perkasa yang ada dirumahmu, yang menjadi separuh nyawamu itu, dan yang menjadi teman seumur hidup bagimu untuk menghabiskan hari??

Lihatlah dia dalam tidurnya..

Tidur nyenyaknya seakan
menggambarkan betapa seharian ini beliau begitu lelah guna mencukupi nafkah untukmu..

dia menyingsingkan lengannya dan mengusap keringatnya, demi dirimu untuk sebuah tercukupi..

Katup sayu matanya mungkin tengah menahan derasnya air mata dalam tidur, karena jebolnya bendungan hati yang kian tergerus setumpuk masalah hidup..

Tapi semua masih tertahan,karena tidak akan tega membiarkan kau dan keluargamu terlunta..

Lihatlah kaki kuat itu..

Dia yang menopang tubuh renta
suamimu, yang menjadi penopang ketika harus menyusuri dunia untuk sebuah kebahagiaanmu, wahai wanita..

Bahkan seperti yang di sabdakan Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam,jikapun memang sesama manusia boleh bersujud, maka di kaki itu, kau harus meletakkan sujudmu dan memasrahkan tanganmu kepadanya..

Lihatlah gurat garis wajahnya..

Kulitnya yang legam dan kasar itu menandakan beratnya perjuangannya..

Seakan disana terukir sebuah
perjuangan yang begitu melelahkan namun menenangkan seluruh anggota keluargamu..

Dengan tanpa keluh walaupun sesekali bimbang dalam melintasi, namun tetep menyediakan pundak yang kuat, dan dada yang lapang demi kau bersandar.. 
Lihatlah gurat wajah lelah itu, yang seakan semakin rapuh dari hari ke hari namun tetap teguh demi sebuah yang bernama tanggung jawab..

LIhatlah para istri yang sholihah, dialah suamimu!!

Lihatlah tangannya..

Rasakan tangan berkulit kasar itu yang semakin hari semakin terasa kasar..

Tangan itulah yang telah
menyelamatkanmu menuju sebuah kehormatan dan menggandengmu pada sebuah perlindungan..

Tangan inilah yang terkait dengan hati mereka dimana mereka seumur hidup menghabiskan hari harinya untuk memenuhi kebutuhan dan
kesenanganmu..

Lihatlah mata mereka..

Pandangan teduh itulah yang
mendamaikanmu..

Mengajakmu dengan lindungan dalam kekuatan mereka..

Berharap kedamaian
menyelimutimu, menghapus sedihmu dan kembali membawa senyum untukmu, wahai para istri..

Pandangan teduh itu yang mengoyak arogansi dan kekuatan mereka demi sebah mencintai makhluk sepertimu..

Pandangan teduh yang juga begitu lelah..

Wahai para istri, betapa banyak suami yang tidak dapat memejamkan mata mereka karena beratnya pikiran dan tanggung jawab mereka saat ini..

Subhanallah, maka bahagiakan dan alihkan sedikit beban mereka dengan sebuah kesenangan dan kesyukuran karena kehadiranmu..

Bahagiakan mereka dengan meminimalisir keluhanmu atas mereka, dan menghadirkan senyum hari- hari
mereka..

Lihatlah ketulusan hati mereka..

Seorang lelaki yang dengan penuh pengayoman tulus dan pengabdian penuh, telah menghabiskan jatah umur mereka demi memegang kendali kapal rumah tanggamu. Mereka tak mengharapkan balas kecuali
kesetiaanmu..

Mereka tak mengharapkan puji kecuali kepandaianmu menjaga anak- anak mereka..

Mereka tak mengharapkan pamrih kecuali dengan kebahagiaan karena terjaganya bidadari yang ada dirumahnya, yaitu dirimu sendiri..

Dialah pemimpin yang sholeh dan bertanggungjawab itu, dialah
suamimu, wahai para istri..

Sungguh para wanita, ridho suamimu adalah kunci surga dunia bagi dirimu dan surga akherat untuk kau dan keluargamu..

Maka hargailah beliau,lebih dari dirimu sendiri.

Maka dahulukan pertimbangan mereka diatas ego dan kemauanmu. 

Maka rendahkan suaramu, walaupun mungkin dalam amarahnya yang sempat memuncak..

Tak apalah jika mengalahmu bisa menjadi sedikit balasan bagi kelegaan hati mereka..

Allah akan tersenyum kepadamu, Allah akan ridho kepadamu, surgapun akan merindukanmu atas semua kebesaran hati dan keluasan jiwamu.

Maka jangan kau teruskan kemanjaanmu dengan tetap terus menuntut tentang apa yang mereka bisa bagikan dengan lebih untuk dirimu, namun tanyakan kepada batinmu sendiri, sudah sejauh mana kau telah menjadi berkah dalam kehidupan beliau, suamimu sendiri.

Dan sudahkah hari ini kau
mengucapkan kata terimakasih
untuknya, seraya mencium tangannya yang mulia??

Sumber:(Syahidah Voa Islam.com)
Baca Selengkapnya / Read More>>


Wanita tidak dicipta dari kepala laki-laki (Adam), supaya tidak melebihi atau mengungguli kodrat laki-laki. Wanita tidak dicipta dari kaki, supaya wanita tidak dihinakan oleh laki-laki atau diinjak laki-laki, karena dia adalah bagian dari tubuhnya. Wanita tidak diciptakan dari tanah, karena wanita memang kodratnya tidak sama dengan laki-laki. Wanita dicipta dari tulang rusuk laki-laki, karena memang untuk dijadikan pasangan laki-laki, menjadi pendamping laki-laki, menjadi kesenangan laki-laki, memperkuat dada laki-laki dan sekaligus menjadi penyeimbang hidup laki-laki.

Rasulullah Saw menjelaskan dalam hadits-nya:

Sesungguhnya wanita itu dicipta dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atas. Jika Anda meluruskannya, sama artinya Anda memecahkannya. Jika Anda biarkan, dia akan tetap bengkok. Karena itulah, Anda harus selalu memberikan nasihat-nasihat kebaikan. (HR. Muslim)

Tulang iga adalah tulang yang bengkok dan letaknya sangat dekat dengan jantung hati. Fungsi tulang iga adalah memperkuat dada dan melindungi hati. Dari sini kita mendapat hikmah dan pelajaran bahwa wanita yang sudah menjadi istri, dia mempunyai 2 tugas, yaitu:

1. Membuat suami kuat dadanya.

Dada adalah lambang keberanian dan keperkasaan. Karenanya, orang yang berani akan menantang lawannya dengan menepuk dada. Dada adalah tempat berkecamuknya segala rasa, ada rasa benci dan senang, ada rasa kesal dan jengkel. Maka dada harus luas dan tidak sempit, agar bisa menjadi arena untuk menyelesaikan pertengkaran segala macam rasa. Orang yang dadanya sempit akan sulit menyelesaikan masalah. Orang yang da-danya sempit mudah berputus asa, tidak punya optimisme, tidak punya semangat dan mudah sakit. Itu sebabnya, Nabi Musa ketika mendapatkan perintah untuk menyampaikan kebenaran di hadapan Fir’aun dan orang-orang bodoh, beliau berdoa kepada Allah:

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataan-ku”. (QS. Thaha: 25-28)

Seorang istri harus menambahkan kekuatan suami, sehingga potensinya bisa bertambah dan berkembang menjadi berlipat-lipat. Seorang istri tidak hanya sekedar memberikan dorongan, tetapi dia menjadi bagian dari kekuatan dada suami. Jadi sesungguhnya wanita adalah dada suami.

Dada adalah kebanggaan, dan di dalam dada ada keberanian dan kekuatan dahsyat. Dada bagi wanita adalah kebanggaannya, dan menjadi kebanggaan suami.

2. Menjaga hati suami.

Hati adalah inti kehidupan. Di dalam hati ada keimanan. Di dalam hati ada kebahagiaan. Istri seharusnya makin mempertebal keimanan sua-mi. Istri seharusnya memberikan kedamaian dan kebahagiaan suami. Istri seharusnya menyenangkan hati suami. Istri seharusnya menjaga hati suami agar tidak berpaling ke lain hati. Karenanya orang yang sudah punya istri seharusnya hidupnya bahagia dan imannya semakin mantap.

Wallahu A'lam bishawab ..


Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmahnya ...
Baca Selengkapnya / Read More>>


Pernahkah engkau ta'aruf dengan seorang ikhwan dan dengan semboyan dahsyat MENCINTAIMU KARENA ALLAH..., tapi... berawal dengan niat seperti ini:

"hmm.. jalani dululah, siapa tau cocok..."
"hmm.., bolehlah, siapa tau emang jodoh..."
"siapa tau..."...... "siapa tau..." dan siapa tau yang lain-lainnya... .

Sungguh bukan hak saya untuk berkata demikian sebenarnya..
Tapi...sungguh miris hati saya ketika melihat realita... ta'aruf seakan jadi sebuah solusi atau jalan lain karena tidak boleh pacaran...!!!

Akibatnya.. ta'aruf tiada bedanya dengan pacaran...
Lalu...??? ta'aruf adalah pacaran hanya dibungkus dengan "selimut Islami..." ??

Jika pacaran yang dibicarakan adalah: " sayang...ketemuan yuk..."

Ta'aruf...: "ukhtiy...sholat tahajud dulu...* ?????


Jika pacaran mengungkapkan perasaan dengan: "sayang...aku cinta kamu..."

Ta'aruf ...: "ukhtiy...sungguh hati ini mencintaimu karena Allah..."

Sms-sms penuh perhatian... tiap hari... tiap jam...
Telepon... mengobrol kehidupan sehari-hari. curhat sana sini... ini itu..
Chatting..?? tiap hari!
YANG DIBICARAKAN. ..??????? hmm..tidak jauh beda...!!!

Kiranya semuanya telah tau...
Bahwa wanita adalah fitnah terbesar bagi seorang laki-laki...

Ukhtiy sebagai seorang wanita... dan kita semua tau...bahwa perhatian laki-laki... kasih sayangnya... sikap melindunginya. kata-kata manisnya.. adalah cobaan yang tidak kalah hebatnya bagi seorang wanita...

Mungkin para akhwat pada awalnya akan berkata...

"iih...antum iseng banget sih..."
"nyebelin... "
"ganjen..."
"ngapain sih ngajak-ngajak ta'arufan gak jelas.."

TAPI.... tanpa kita sadari, kita semua pun juga tau....
BAHWA Cinta itu tumbuh karena terbiasa...

terbiasa di smsin dan ditelponin..
terbiasa dekat...
terbiasa ada...
terbiasa bersama...
terbiasa saling menyapa...
terbiasa diberi perhatian...
terbiasa saling mengobrol...
dan terbiasa terbiasa yang lain.. hmm...

Cinta itu teramat bening...
saat ini tiada apapun... namun perlahan.. .tanpa kita sadari... dia sudah menjalar ke seluruh bagian jiwa kita,,, menguasai kita...

Awalnya mungkin kita akan merasa sebal dengan kehadirannya...
Terganggu oleh sms-sms isengnya....
Terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan anehnya....

Namun.. .tanpa kita sadari...
saat ia tiada...
saat sms tak kunjung tiba...
saat telepon tak berdering lama....????
akan ada perasaan kehilangan.. ..
setiap saat melihat ke HP... menunggu deringnya...
setiap saat melongok ke komputer... menunggu dia online.

Dan itukah... itukah saudariku... .??? yang dinamakan dengan..."MENCI NTAI KARENA ALLAH...???

dan bagaimana jika kita telah jatuh cinta...
bagaimana ternyata hati kita sudah saling merindu... menginginkan adanya kebersamaan...
merindukan adanya kasih yang tanpa akhir...
sementara... .KITA BELUM HALAL....!!! !!!
DAN MUNGKIN KITA TIDAK AKAN PERNAH JADI HALAL....!!! !!!

sanggupkah engkau pertanggungjawabkan sms-sms mesramu...?? ?
sanggupkah engkau pertanggungjawabkan telepon mesramu...?? ?
sanggupkah engkau pertanggungjawabkan tangis para akhwat karena mulai merindukanmu. ..???
dan mulai berharap padamu...???

MARI TA'ARUF YANG BENAR...!
CARANYA..? CARI ILMUNYA ..!

semoga bermanfaat

Baca Selengkapnya / Read More>>


Wahai adikku..

Engkau adalah wanita yang hidup dalam “rusaknya zaman”. Generasi yang mulai hilang harga diri. Melupakan hati nurani. Akal sehat telah kalah oleh nafsu. Membius diri dengan surga palsu.

Wahai adikku..

Ini adalah zaman dimana kakak berpijak. Moral kini banyak yang telah mulai rusak. Sedangkan engkau masih dalam pencarian jati diri. Entah pada zaman apa nanti engkau akan berada. Do’aku pada Yang Maha Kuasa semoga engkau terpelihara dari hingar bingarnya kemaksiatan dunia yang fana.


Wahai adikku..

Zaman ini telah susah mempertahankan jati diri, kecuali orang-orang yang ta’at berbakti pada Illahi Robbi..

Sangat sulit mencari wanita yang setia menjaga harga diri. Banyak bayi lahir mempertanyakan bapaknya. Mengumbar hawa nafsu dianggap hal yang biasa. Bertopeng kata cinta… Hanya pelampiasan nafsu belaka.


Wahai adikku..

Tantanganmu akan semakin berat. Jagalah diri agar tidak tersesat. Terperdaya oleh iblis-iblis laknat.

Wahai adikku..

ku sejauh ini telah berusaha menjaga seluruh anggota tubuhku. Tak pernah menyentuh ataupun disentuh wanita manapun, kecuali nanti untuk istriku. Dengan harapan… nanti tak ada pula lelaki yang akan menjamahmu, kecuali lelaki yang menjadi suamimu…

Karma itu pasti ada.. Dan aku tak ingin engkau mendapat karma dari dosa.

Wahai adikku..

Jadilah wanita sholihah yang tegar menghadapi dunia. Jawablah semua tantangan zaman. Dengan berbekal ilmu, ketaqwaan dan iman. Jangan pernah malu, terserah apa kata mereka... jadilah diri sendiri Insan Kamil penuh budi pekerti. Walau mungkin mereka bilang engkau berbeda. Gadis berjilbab dalam “zaman yang membuat orang tersesat”. Gadis ta'at dalam “zaman yang menuntut kedudukan sederajat”…

Ta'at pada Illahi bukanlah suatu hal yang memalukan.

Ta'at pada suami bukan berarti kau wanita lemah yang tak kuat melawan.

Semua yang kau lakukan demi surga yang menantimu kelak. Ridho Illahi yang lebih layak. Dari sekedar kehidupan dunia yang menyajikan surga sesaat.

Wahai adikku..

Ingat pesanku.. Ingat nasehatku.. kutinggalkan pesan ini di dunia maya.. Berharap suatu saat engkau membacanya.. Untuk berjaga, bila suatu saat nanti ku tak lagi ada. . Jangan kau tinggalkan sholatmu, Jaga diri, jaga amanah, jaga fikiran, dan juga jaga hatimu. . .

_ _ _ _ _
Jepara, 12-11-2012

Sepenggal pesan dari Kakak
Baca Selengkapnya / Read More>>